slot online

Kisah Lahirnya Feminis Muda Dalam Film Little Woman

Posted by

Safarisavanna.com – Ada ironi yang menyapa selama kita menyaksikan Little Women, film adaptasi dari novel Louisa May Alcott pada tahun 1868. Terutama saat menyadari bahwa masalah perempuan di masa itu, enggak jauh berbeda dengan zaman sekarang.

Ketika itu, masih sangat haram hukumnya buat perempuan untuk berani berbicara. Aneh rasanya melihat perempuan memotong pendek rambutnya. Juga terkutuklah bagi perempuan yang memutuskan untuk melajang seumur hidupnya.

Tapi, itu semua yang justru dilakukan oleh Jo March (Saoirse Ronan), karakter utama dalam film Little Women. Ia juga enggak peduli dengan standar gender yang melekat kepadanya. Malah, ia jengah dengan penggambaran perempuan di masanya.

Dengan berbekal pena, tinta, kertas, dan ribuan kata sebagai senjata, Jo perlahan mendobrak batasan dan mewujudkan mimpinya sebagai penulis. Ia enggan mematahkan asanya dan terjebak dalam pernikahan. Mimpinya besar, jalannya masih panjang.

Baca Juga : Slot Online

Jo meninggalkan Massachusetts, Amerika Serikat, untuk mengadu nasib di New York. Sifatnya yang mandiri, keras kepala, gigih, dan cerdas, bikin dia bertahan meski bolak-balik ditolak penerbit. Namun, enggak cuma itu yang membuat dia layak dijadikan inspirasi. Hubungan Jo dengan keluarganya pun menjadi aspek penting yang tidak terpisahkan.

Jo adalah anak ke-2 dari empat bersaudara. Ia punya kakak bernama Meg  yang diperankan oleh Emma Watson. Lalu ada adik pertama bernama Beth diperankan oleh Eliza Scanlen dan adik ke-2, Amy (Florence Pugh). Semasa kecil sampai beranjak dewasa, mereka selalu bersama. Kakak-beradik ini terlihat seperti geng daripada saudara.

Jo selalu memprioritaskan keluarga. Saat Meg menikah dan Amy yang pergi ke Eropa, ia baru saja pergi mengejar mimpi. Begitu pula saat ketiga saudaranya itu selesai dengan masalah masing-masing, ia barulah bisa fokus kepada masalahnya sendiri. Kedekatan Jo dengan saudaranya ini menampilkan sisi lain yang penyayang, lembut, dan perhatian. Dia menjadi perekat, penyokong, sekaligus pelindung bagi keluarganya.

Greta Gerwig jadi Sutradara yang Tepat buat Little Women

Kisah tentang perempuan paling tepat disampaikan oleh sesama perempuan. Sama halnya dengan film Little Women, yang untungnya digarap oleh aktris sekaligus sutradara, Greta Gerwig. Kisah Frances yang cukup lekat dengan kesendirian, kemiskinan dan ambisi, dibawa ke kehidupan Jo March.

Jo sebagai anak muda yang ingin bebas, mengingatkan kita pada film Lady Bird (2017) yang Gerwig garap dan juga dibintangi oleh Saoirse Ronan. Lady Bird dan juga Jo March sama-sama mengejar mimpi yang membuat mereka semakin jauh dari rumah. Tapi, mereka justru berhasil menemukan jati dirinya dengan kembali ke tengah keluarga.

Meskipun keterangan itu cuma ditampilkan sekali, namun perbedaan mood serta tone mampu membuat penonton cepat paham alur mana yang sedang diceritakan. Gerwig menggunakan tone oranye dan juga merah yang hangat tiap kali Jo flashback ke masa-masa bersama dengan keluarganya. Sedangkan adegan di masa sekarang, dikemas Gerwig lewat tone biru yang lebih dingin untuk mewakilkan kesedihan, kehilangan, dan kedewasaan.

Film yang Megah, walau berjudul Little Woman

Jangan terkecoh sama judulnya. Selain cerita yang kaya dan juga sederet aktor besar membuat film ini semakin solid. Saoirse Ronan sukses memancarkan tekad kuat dari karakter Jo March. Emma Watson juga berhasil memberikan sense putus asa dari Meg March yang selalu ingin diterima oleh para sosialita kaya.

Eliza Scanlen yang tampil polos dan lugu sebagai Beth March yang paling pendiam di antara ketiga saudaranya itu. Sementara itu ada Florence Pugh sebagai Amy March selalu meledak-ledak, berani dan kekanak-kanakan selayaknya anak bontot.

Karakter lain yang juga bikin senyum-senyum sendiri selama Little Women diputar adalah Teddy Laurence yang diperankan oleh Timothee Chalamet. Ia berperan sebagai cucu dari seorang yang kaya-raya. Disini ia kesepian dan akhirnya menemukan kebahagiaan di tengah empat kakak-beradik tersebut. Timothee Chalamet memberikan energi baru untuk karakternya. Hubungan dengan Saoirse Ronan juga menciptakan momen lucu serta menyedihkan.

Penampilan para pemeran pendukung seperti Laura Dern sebagai Mary March, ibu dari keempat kakak-beradik, Meryl Streep sebagai bibi mereka, sampai Louis Garrel sebagai Friedrich Bhaer, juga semakin mengukuhkan film ini. Film Little Women sudah tayang pada Jumat (7/2) di bioskop Indonesia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *